Kamis, 11 Februari 2016

Makalah Iman Islam dan Ihsan

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Kita sebagai manusia menginginkan kehidupan yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam mencapai keinginan tersebut kita pasti memerlukan tuntunan dalam menjalankan kehidupan yang tentram lagi bahagia yaitu adalah agama yang lurus yang mengajarkan kebaikan serta yang menghargai, menghormati dan menyayangi  kepada sesamanya. Dengan agama yang lurus kita akan lebih terarah dan lebih menjadi baik karna kita senantiasa di tuntut untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam mempelajari agama yang lurus agar kita dapat memahaminya dengan baik serta dapat  melakukannya dengan perbuatan di keseharian maka kita  membutuhkan suatu keyakinan karna kita meyakini sesuatu hal yang ghaib. Dalam hal tersebut mendorong kita untuk selalu berbuat baik kepada setiap orang.
Dalam agama Islam kita mengenal konsep Iman dan Ihsan. Kedudukan Ihsandalam kehidupan merupakan hal yang penting. Kadang kala kita sebagai seorang muslim yang sudah diberikan tuntunan masih saja melakukan hal-hal yang tidak baik. Ini diakibatkan karena tingkat keimanan yang tidak stabil. Kita tahu bahwa Ihsan merupakan realisasi dari Iman.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana kaitan antara Islam, Iman, dan Ihsan. Karena dari ketiga konsep di atas merupakan kunci untuk mencapai suatu kehidupan yang bahagia.

b. Tujuan
              Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan kepada pembaca dan penulis tentang Pokok-Pokok Ajaran Agama Islam (Iman, Islam, dan Ihsan) serta untuk menyelasaikan tugas mata kuliah Studi Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

a. Pengertian Iman, Islam dan Ihsan
a.1. Iman
Kata Iman berasal dari Bahasa Arab yaitu bentuk masdar dari kata kerja (fi’il). امن , يؤمن ,  ايماناyang mengandung beberapa arti yaitu  percayatunduk, tentram dan tenang.[1] Imam al-Ghazali mengartikannya dengan التصديق  yaitu “pembenaran”.
Menurut Imam Ab­­ Hanifah:
الايمان هو الاقرار و التصديق 
“ Iman ialah mengikrarkan (dengan lidah ) dan membenarkan (dengan hati)”.
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal mendefinisikannya dgn:
 قول و عمل و نية و ثمسك بالسنة
“Ucapan diiringi dgn ketulusan niat dan dilandasi dgn berpegang teguh kepada Sunnah”.[2]
Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Iman adalah Membenarkan segala sesuatu baik berupa perkataan, hati, maupun perbuatan.

a.2. Islam
Kata Islam berasal dari Bahasa Arab adalah bentuk masdar dari kata kerjaاسلم – يسلم - اسلاما   Yang secara etimologi mengandung makna : Sejahtera, tidak cacat, selamat. Seterusnya kata salm dan silm, mengandung arti : kedamaian, kepatuhan, dan penyerahan diri.[3] Dari kata-kata ini, dibentuk kata salam sebagai istilah dengan pengertian : Sejahtera, tidak tercela, selamat, damai, patuh dan berserah diri. Dari uraian kata-kata itu pengertian islam dapat dirumuskan taat atau patuh dan berserah diri kepada Allah.[4]
Secara istilah kata Islam dapat dikemukan oleh beberapa pendapat :
الاسلام وهو الاستسلام والانقياد الظاهر
“Islam berarti menyerah dan patuh yang dilihat secara zahir”.

Menurut Hammudah Abdalati Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT. Maksudnya patuh kepada kemauan Tuhan dan taat kepada Hukum-Nya.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Islam itu ialah tunduk dan taat kepada perintah Allah dan kepada larangannya
Islam di bangun diatas lima rukun, sebagaimana dijelaskan dalam Hadits:
حدثنا عبيد الله بن موسى قال اخبرنا حنظلة بن أبي سفيان عن عكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان )
Abdullah bin musa telah bercerita kepada kita, dia berkata ; handlolah bin abi sufyan telah memberi kabar kepada kita d ari ikrimah bin kholid dari abi umar ra. Berkata : rasul saw. Bersabda : islam dibangun atas lima perkara : persaksian sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, memberikan zakat, hajji dan puasa ramadlan”.[5]

a.3. Ihsan
Kata ihsan berasal dari Bahasa Arab dari kata kerja (fi’il) yaitu : احسن – يحسن – احسا نا  artinya : فعل الحسن  ( Perbuatan baik ). Menurut istilah ada beberapa pendapat para ulama,yaitu:
Menurut Muhammad Amin al-Kurdi, ihsan ialah selalu dalam keadaan diawasi oleh Allah dalam segala ibadah yang terkandung di dalam iman dan islam sehingga seluruh ibadah seorang hamba benar-benar ikhlas karena Allah.[6]
Menurut Imam Nawawi Ihsan adalah ikhlas dalam beribadah dan seorang hamba merasa selalu diawasi oleh Tuhan dengan penuh khusuk, khuduk dan sebagainya.[7]

b. Hubungan Antara Iman, Islam, dan Ihsan
Iman, Islam dan Ihsan satu sama lainya memiliki hubungan karena merupakan unsur-unsur agama (Ad-Din). Iman, Islam dan Ihsan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Iman adalah keyakinan yang menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara Ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah.
Selain itu Iman, Islam, dan Ihsan sering juga diibaratkan hubungan diantara ketiganya adalah seperti segitiga sama sisi yang sisi satu dan sisi lainya berkaitan erat. Segitiga tersebut tidak akan terbentuk kalau ketiga sisinya tidak saling mengait. Jadi manusia yang bertaqwa harus bisa meraih dan menyeimbangkan antara iman, islam dan ihsan.[8]
              Iman itu bisa dikatakan sebagai landasan awal.  Seperti sebagai pondasi dalam keberadaan suatu rumah. Sedangkan Islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin tidak terdirikan. Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.

c. Perbedaan Antara Iman, Islam, dan Ihsan
Disamping adanya hubungan diantara ketiganya, juga terdapat perbedaan diantaranya sekaligus merupakan identitas masing-masing. Iman lebih menekankan pada segi keyakinan dalam hati. Islam merupakan sikap untuk berbuat dan beramal.Sedangkan Ihsan merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan nyata. Dengan ihsan, seseorang bisa diukur tipis atau tebal iman dan islamnya.
Iman dan islam bila disebutkan secara bersamaan, maka yang dimaksud dengan Islam adalah amal perbuatan yang nampak, yaitu rukun Islam yang lima, dan pengertian iman adalah amal perbuatan yang tidak nampak, yaitu rukun iman yang enam. Dan bila hanya salah satunya (yang disebutkan) maka maksudnya adalah makna dan hukum keduanya.
Ruang lingkup ihsan lebih umum daripada iman, dan iman lebih umum daripada Islam. Ihsan lebih umum dari sisi maknanya; karena ia mengandung makna iman. Seorang hamba tidak akan bisa menuju martabat ihsan kecuali apabila ia telah merealisasikan iman dan ihsan lebih spesifik dari sisi pelakunya; karena ahli ihsan adalah segolongan ahli iman. Maka, setiap muhsin adalah mukmin dan tidak setiap mukmin adalah muhsin.[9]

d. Keutamaan Iman, Islam, Dan Ihsan Bagi Manusia
Setiap pemeluk Islam mengetahui  dengan  pasti  bahwa  Islam (Al-Islam) tidak sah tanpa iman (Al-Iman), dan  iman  tidak  sempurna  tanpa  ihsan (Al-Ihsan).  Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga tidak mungkin  tanpa  Islam. Ali Bin Abi Thalib mengemukakan tentang keutamaan Iman, Islam dan Ihsan sebagai berikut:
قال علي : إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله
Artinya: “Sahabat Ali Berkata : sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar yang  putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar tersebut  akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga hitamlah (warna) hati”.[10]
Jadi Iman,Islam dan Ihsan mempunyai keutamaan yang sangat besar  dalam pandangan islam ini karena bagi para pelakunya akan diberikan Syurga oleh Allah SWT sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Islam, iman, dan ihsan merupakan suatu aspek yang membentuk sebuah rangkaian kesatuan yang saling mengait satu sama lain. Kita bisa menganalogikan islam, iman, dan ihsan sebagai sebuah rumah. Dimana iman sebagai pondasi, islam sebagai dinding dan ihsan sebagai atapnya. Jika diantara ketiganya ada yang hilang, maka maka rumah tersebut tidak akan sempurna. Dalam kehidupan, jika diantara ketiga aspek tersebut ada yang hilang dalam diri seseorang, maka orang tersebut tidak akan merasakan dalam hatinya, muslim yang menjaga rukun islam akan selalu dekat dengan Tuhannya dan muslim yang selalu berihsan akan selalu baik dalam hubungan dengan lingkungannya. Ihsan merupakan perbuatan atau wujud pengaplikasian dari iman dan islam itu sendiri. 

b. Saran
Dari pembahasan di atas, penulis hanya bisa menyarankan agar pembaca senantiasa meningkatkan semangat keagamaan dan lebih meningkatkan keimanan dan lain sebagainya. Penuhilah hati kita dengan meningkatkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul.



Daftar Pustaka

Abduh, Muhammad. Risalah Tauhid (Terjemahan) H. Firdaus. 1976. Jakarta : Bulan Bintang,
As Asmaran. Pengantar Study Tauhid. 1992. Jakarta : Rajawali Press
Imam Ab Hanifah. Al-Fiqh al-Akbar. 1979. Hedrabad : Dairah al-Ma’arif al-‘Usmanyah



[1] Louis Ma’luf, Kamus al-Munjid, Beir­­t : al-Maktabah al-Katulikiyah, T.th, hlm.16
[2] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, (Terjemahan) H. Firdaus, Jakarta : Bulan Bintang, 1976, hlm.257
[3] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, (Terjemahan) H. Firdaus, Jakarta : Bulan Bintang, 1976, hlm.48
[4] Asmaran AS, Pengantar Study Tauhid, Jakarta : Rajawali Prees, 1992, hlm.84
[5] Asmaran AS, Pengantar Study Tauhid, Jakarta : Rajawali Prees, 1992, hlm. 75
[6] Muhammad Musthafa.Al-Ushulul As-Tsalasa.hlm.86
[7] Muhammad Musthafa.Al-Ushulul As-Tsalasa.hlm.104
[8] Muhammad Musthafa.Al-Ushulul As-Tsalasa.hal.28
[9] Hasby ash-Shiddiqy. Al-Ushulu At-Tauhid. hal.31-32
[10] Imam Ab Hanifah, Al-Fiqh al-Akbar, Hedrabad : Dairah al-Ma’arif al-‘Usmanyah, 1979, hlm.6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar